February 25, 2011 New 6 Hal Yang Saya Benci Dari Blog / Website
Bangun tidur, melongok ke luar lewat jendela, Ya Tuhan, kemana matahari pagi ini?? (lebay).. Owh, ternyata tertutup mendung..:). Kalo udah mendung gini, hasrat untuk keluar rumah jadi sirna. Udah terbayang betapa repotnya kalo naik motor tiba-tiba hujan mengguyur, apalagi kalo pas jalan, inget jas hujan masih menggantung manis di jemuran bukan di tempat seharusnya, bawah jok. Mimpi buruk pikirku.
Haaa.. daripada ngalamin mimpi buruk mending nyalain laptop, kali aja ada inspirasi buat corat-coret blog. Tetapi ternyata, setelah hampir setengah jam mandangin laptop (cuma dipandangin aja), tak ada inspirasi secuilpun hinggap di otak. Akhirnya iseng googling, yaa cari referensi buat apa aja. Setelah ketemu apa yang dicari, mulai deh berselancar ke blog-blog dan web-web yang keren-keren. Tapi tunggu dulu, keren tuh relatif lho. Kalo menurutku blog / web keren tuh yang akomodatif. Jadi elemen di dalamnya tidak ada yang mubadzir. Semua ada fungsinya. Meskipun kadang ada juga sih beberapa blog/web yang keterlaluan. Nah, yang keterlaluan ini yang gak aku suka. Mungkin menurut yang punya, yang begini ini yang keren. Tapi apa kamu buat blog/web cuma kamu buka sendiri? Kamu baca-baca sendiri? Gak kan. Trus apa aja 'keterlaluan-keterlaluan' di blog/web?
Udah jadi kebiasaan buatku kalo nyalain laptop, Winamp ato kadang iTunes, harus nyala. Musik tuh uda bagaikan udara bagiku. Nah, pas selancar tadi tiba-tiba ada musik gak jelas. Mengganggu suara seksi Ailyn yang lagi ngerock bareng Sirenia. Apa ini? Ternyata Embedded Music. Itu tuh blog/web yang dipasangin lagu. Biar pas dibuka bisa nyanyi. Apa apaan ini. Keren sih emang, tapi kembali lagi ke atas kalo keren itu relatif. Dan menurutku yang kayak gini ini gak ada keren-kerennya sama sekali. Mengganggu yang ada. Dulu, sebelum tau cara matiin ni musik gak jelas, jalan keluarnya cuma satu, get out from this blog. Kehilangan satu pengunjung kan. Dan dijamin dia gak bakal balik lagi ke blogmu.
2. Pop-Up
Nah, yang ini lebih mengganggu daripada yang di atas. Bagaimana tidak, ketika kita uda nemuin artikel yang kita maksud, tiba-tiba ada sebuah layar yang gak jelas darimana datangnya, mengahalangi artikel tadi. What the f**k?!. Biasanya sih iklan. Trus kita disuruh ngeklik iklan tadi biar pop-up-nya ilang. Enak di lo ga enak di gue donk. Kalo iklannya PPC (paid per click), lo dapet uang gue cuma dapet sebel. Ya maaf kalo saya akan meninggalkan blog anda secepat mungkin. Kalo kata anak jaman sekarang, hoax.
3. Flash/Slider
Dulu, dulu banget, aku sempet jadi penggemar blog ber-slider, dan mengaplikasikannya ke blogku. Keren emang. Tapi setelah berjalannya waktu, yang kayak gini ini bikin loading lamaaa. Apalagi kalo sambungan internetnya menyebabkan darah tinggi, disarankan jangan dibuka deh, atau darah anda bisa naik ke ubun-ubun. Kecuali photoblogs, slider biasanya hanya menampilkan entry terbaru, terpopuler, yang sering dikomen atau apalah itu. Dan menurutku ini tidak ada gunanya sama sekali. Ya mungkin ada tapi tidak berefek apa-apa meskipun kamu gak pake slider.
4. Animasi
Ini biasanya blog punya cewek. Tapi ada juga sih blognya cowok tapi animasinya kecewek-cewek an..:). Apa sih sebenarnya tujuan mereka pasang gambar animasi? Tentu untuk menarik pengunjung. Sekarang banyak blog/web yang diterbangi burung-burung kecilnya twitter. Ada juga yang mouse pointernya ada ekor saljunya. Banyak lah. Lucu sih dalam beberapa detik, selanjutnya menjadi sangat menjengkelkan. Aku sering enggan untuk mengunjungi kembali blog yang terlalu banyak gambar animasinya animasi di dalamnya.
5. Iklan
Sekarang lagi jaman cari duit lewat internet. Salah satunya dengan memasang iklan di blog. Ada banyak jenis iklan yang bisa dipasang di blog/web, salah satunya PPC (paid per click). Mekanismenya, si pemilik blog akan mendapat duit setiap 1 klik pengunjung di iklan tersebut. Tapi, dasar manusia Indonesia yang maunya dapet untung banyak, blognya dipasangin banyaak banget iklan-iklan gak penting. Pernah dulu aku buka blog, yang bahkan PRnya masih 0 tapi iklannya memenuhi semua ruang di blog tersebut. Dia bikin blog apa bikin baliho sih?? Trus artikelnya dimana ini woii…!!
6. Copy Paste
Hehehe… kalo ngomongin ini jadi inget blogku yang dulu, yang hamper 80% isinya adalah hasil copy paste. Tapi aku masih beretika karena hasil copy paste itu aku cantumin link sourcenya. Dan itu juga duluu, waktu pertama kenal blog. Istilah kerennya jaman masih labil. Sekarang? Alhamdulillah di blogku yang ini gak ada artikel-artikel copy paste, semuanya asli ketikan jariku. Udah bukan ambisi lagi untuk menarik banyak pengunjung, tapi lebih ke fungsi blog sebagai buku harian elektronik. Artikel copy paste tuh kadang suka bikin jengkel. Bayangin waktu kita googling, trus kita klik satu-satu link yang muncul. Nah, artikel ini kok sama persis ma yang ini? Yang ini juga. Satunya ini juga sama. Bahkan titik komanya pun sama. Trus apa yang kamu pikirin? Blog apa ini isinya kok copy paste semua. Dan dijamin kamu gak bakal balik ke blog ini lagi.
Yah itu aja sih yang kadang bikin aku jengkel kalo buka blog/web. Masih banyak kok cara yang bisa ditempuh untuk bikin blog yang keren tanpa harus mengganggu pembaca. Sekali lagi ini hanya opiniku dan tidak ada maksud apa-apa. Semoga anda menikmati..:)
- 5 Comment(s)
- Posted under Opinion
February 25, 2011 Yes! I am Different...
Gak cuman itu aja. Soal musik, saat trend K Pop melanda. Bisa dipastikan semua bakal berdandan ala Korea, bikin boyband, girlband. Meskipun ada sebagian yang gak sepenuhnya boy sih. Dulu juga waktu trend emo menyerang semua berlomba-lomba meminggirkan rambutnya. Atas dasar apa mereka melakukan itu? Ikut-ikutan dan biar dibilang gaul karena udah up to date dengan trend yang ada. WTF!
Disinilah para penganut diferensialis beraksi. Mereka berlomba-lomba untuk meng-counter trend yang ada. Bukan apa-apa tapi karena di dalam darah mereka udah mengalir darah yang berbeda, darah yang emang anti sama yang namanya ikut-ikutan. Dan orang yang seperti inilah yang biasanya bisa menjadi trend setter bukan follower yang bisanya cuma ikut-ikutan. Jelas menjadi trend setter lebih membanggakan dan lebih terhormat daripada cuma menjadi follower.
Yah, bagi orang-orang yang berpaham diferensialis ini, menjadi berbeda merupakan kebanggaan. Karena mereka tau, gak semua orang bisa dan mampu menjadi berbeda.
Mengalirkah darah diferensialis di tubuhmu? Memilih menjadi kaum terhormat yang gak suka ikut-ikutan ato menjadi kaum follower yang kehilangan karakter khas karena bisanya cuma ikut-ikut? Ask to your heart!
- 6 Comment(s)
- Posted under Opinion
February 25, 2011 Saya Dukung Yang Mana Nih???
Hari Senin sore pukul 15.30. Iseng-iseng nonton tipi. Liat ANTV ada pertandingan bola dalam negeri. Setelah diamat-amati ternyata ajang Indonesian Super League. Kebetulan yang main klub kebanggaan Malang Raya, Arema. Tapi tunggu dulu, ini Arema mana ya?? Koq skuadnya bedaaa banget ma musim lalu. Apalagi musim sebelumnya saat Arema berhasil menjadi kampiun Indonesian Super League. Ternyata selidik punya selidik ini adalah Arema yang berlaga di ISL. Sepengetahuan saya ini adalah Arema Versi Rendra Kresna. What the hell?? Dan Arema yang musim lalu sekarang berlaga di Indonesian Premier League. Selama Arema berdiri belum ada tuh "Aremania versi siapa". Tapi saya yakin asal ada nama Arema pasti akan ada Aremania, gak peduli tuh mau versi siapa. Tapi bikin bingung juga sih dan pastinya menguras kantong penonton. Bayangkan saja jika Arema Versi IPL dan Arema Versi ISL main bersamaan, ato setidaknya harinya berdekatan. Bisa dibayangkan akan berapa kali para Aremania datang ke stadion untuk menyaksikan tim kesayangannya berlaga dan berapa duit yang harus dikeluarkan penonton??
Kadang saya mengelus dada, bagaimana bisa kondisi persepakbolaan kita sekarang semrawut gak karuan. Kalo orang awam seperti saya, sudah pasti menduga dan menyangka kalo petinggi-petinggi PSSI yang berada di balik ini semua. Mereka sebenarnya tidak punya sedikitpun rasa cinta terhadap sepak bola meskipun talenta-talenta penuh prestasi bertebaran di segenap penjuru negeri.
Padahal kalo menurut saya ISL yang sudah berlangsung beberapa musim terakhir sudah berjalan baik dan digadang-gadang menjadi ajang liga peringkat 8 Asia. Tapi sekarang gak tau deh peringkat berapa. Kesemrawutan ini dimulai saat tampuk kepemimpinan PSSI beralih ke Djohar Arifin Husin. Sepertinya beliau ingin menghapus bersih PSSI dari segala atribut berbau Nurdin Halid, ketua umum PSSI sebelumnya. Termasuk ajang liganya beserta pelatih timnasnya, Alfred Riedl. Untung aja nama PSSI gak ikut diganti sama dia. Hal inilah yang kemudian menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat, mungkinkah persoalan pribadi diikutsertakan dalam kesemrawutan PSSI? Ato ada mesin politik di dalamnya yang sengaja mengorbankan sepak bola nasional untuk kepentingan poltik seseorang? Who knows? Hanya Tuhan dan dia yang tahu.
Yang jelas sekarang kondisi sepak bola negeri ini butuh perbaikan. Bukan hanya sistem liganya tapi juga timnasnya. Buat pengurus baru sudahlah gak ada gunanya saling menyalahkan. Mending bergandengan tangan dan menatap masa depan persepakbolaan kita. Gak usah anti sama kepengurusan lama di bawah Nurdin Halid. Toh gak semua yang ditinggalkan Nurdin Halid cs buruk. Contoh ISL yang beberapa musim sudah digelar. Meskipun masih compang-camping, saya yakin beberapa tahun ke depan akan menemukan jati dirinya. Tapi belum sampai waktu itu ISL sudah dihancukan paksa oleh PSSI kepengurusan baru.
Kondisi timnas tidak kalah menyedihkan. Setahun yang lalu di ajang AFF Cup masih jelas teringat bagaimana keperkasaan Pasukan Garuda di babak penyisihan hingga semifinal ternyata tidak bertaji di babak final dan, lagi-lagi, menyerah pada Malaysia. Yang lebih parah, hal itu justru terjadi di kandang sendiri. Di Stadion Bung Karno. Di depan pendukung Indonesia. What the hell??
Eh gak taunya di ajang Sea Games kejadian serupa terulang kembali. Kali ini Garuda Muda yang ompong di babak final. Dan lagi-lagi Malaysia yang mempermalukan kita. Lagi-lagi juga di Stadion Bung Karno dan lagi-lagi di depan pendukung Indonesia. What the hell part 2.
Saya jadi teringat pernyataan Striker Timnas U23 yang sempat meluas di jejaring sosial. Kalo gak salah berbunyi, kalo anda tidak bisa mendukung timnas saat kalah, anda jangan bersorak gembira saat timnas menang. Memang benar sih, sebagai pendukung setia kita memang harus mendukung timnas apapun keadaannya. Tapi wajar juga dong kalo kita kecewa dengan timnas. Bayangkan, Udah sejak 1991 kita tidak bersorak di partai final Sea Games. Sudah 20 tahun. Dan sampai kapan lagi kita harus menunggu??
- 0 Comment(s)
- Posted under Opinion
February 25, 2011 Disabilitas dan Pandangan Masyarakat. Sudahkah Mereka Mendapatkan Haknya?

Kelahiran, kematian, pertemuan, perpisahan adalah takdir yang telah digariskan Tuhan sejak manusia lahir, dan setiap manusia tidak bisa mengelak darinya. Salah satu takdir Tuhan adalah kenyataan bahwa tidak semua manusia dilahirkan dalam kondisi sempurna. Ya, disabilitas (dahulu disebut cacat) adalah salah satu bentuk dari takdir Tuhan, dan tidak seorang pun bisa mengelak darinya. Setiap orang pasti tidak ingin memiliki kekurangan, tapi karena ini adalah takdir Tuhan apa mau dikata. Seorang penyandang disabilitas pasti sudah bisa menerima kekurangan yang dibawanya sejak lahir. Tapi apakah masyarakat sekitar juga melakukan hal serupa? menerima penyandang disabilitas seperti manusia lainnya? Tunggu dulu, hal yang satu ini masih patut dipertanyakan.
Janganlah muluk-muluk, menuntut pemerintah menyediakan fasilitas umum yang memfasilitasi penyandang disabilitas, tapi mulailah dari diri kita sendiri. Sudahkah masyarakat luas menerima kehadiran penyandang disabilitas dan memberikan hak-haknya setara dengan manusia lainnya?? Banyak contoh diluar sana, masyarakat cenderung melihat para penyandang disabilitas sebagai pusat perhatian, sesuatu yang harus dilihat untuk kemudian sikap enggan yang ditunjukkan. Entah enggan untuk berjalan bersama, enggan untuk berdekatan, seakan-akan penyandang disabilitas dianggap sebagai mahkluk luar angkasa. Hal yang sebenarnya sangat tidak bermoral. Apa yang salah dengan mereka? Hanya takdir yang membuat mereka berbeda. Lantas apakah kita punya hak untuk membeda-bedakan mereka dengan masyarakat pada umumnya?. Satu hal lagi yang membuat saya sangat miris yaitu melihat para anak muda jaman sekarang yang cenderung egois dengan menggunakan istilah kelainan kejiwaan (autis) sebagai kata yang keren dan ‘gaul’ (damn! I hate that word). Entah itu karena mereka tidak mengerti arti yang sebenarnya dari autis atau sebenarnya mereka tahu tapi masa bodoh, apapun itu sudah cukup membuat saya miris setiap kali melihat kata tersebut di sebuah jejaring sosial yang bahkan dijadikan sebagai ID di jejaring sosial tersebut. Sebuah gambaran sikap masa bodoh remaja masa kini terhadap penyandang disabilitas.
Di jaman yang semakin modern ini, sudah bukan jamannya penyandang disabilitas dianggap sebelah mata. Tengok saja gelaran Para Olimpiade, Olimpiade yang khusus untuk para penyandang disabilitas. Lihat prestasi cemerlang mereka yang beberapa bahkan melampaui prestasi manusia pada umumnya. Sudah waktunya masyarakat modern mengubah stigma mereka terhadap penyandang disabilitas. Menerima kehadiran mereka di tengah-tengah kita tanpa sedikitpun perasaan berbeda dan memberikan hak-hak mereka setara dengan manusia pada umumnya. Pemerintah, bagaimanapun memegang peran utama dalam hal ini. Salah satunya tentu dengan menyediakan fasilitas umum yang bersahabat dengan penyandang disabilitas. Akses-akses jalan, akses untuk angkutan umum, taman kota, pusat perbelanjaan, rumah sakit, sekolah dan fasilitas umum lainnya harus sebisa mungkin bersahabat dengan para penyandang disabilitas. Dan sebaiknya benar-benar bersahabat. Bukan hanya kedok seperti yang saya lihat di sebuah kampus ternama di Surabaya. Akses tangga memang sudah dilengkapi jalur khusus penyandang disabilitas, tapi menurut saya sangat tidak bersahabat dengan mereka. Bagaimana tidak, akses tersebut dibuat sangat curam. Untuk orang biasa mungkin enak saja lewat disitu, tapi bagi pengguna kursi roda?. Saya berani jamin mereka akan kesulitan untuk naik dan turun. Ini yang saya sebut hanya kedok saja dengan menyediakan fasilitas untuk penyandang disabilitas tapi tidak benar-benar bersahabat dengan mereka.
Bukan hanya pemerintah, masyarakat luas, dalam hal ini pengguna internet, juga harus berperan aktif mendukung para penyandang disabilitas untuk mendapatkan haknya. Internet, sebagaimana kita ketahui adalah media paling laris saat ini. Mungkin masih kalah dengan televisi, tapi kedudukan internet dalam masyarakat tidak bisa dipandang sebelah mata. Inilah yang mungkin menjadi dasar KARTUNET.COM, sebuah situs yang dibuat sebagai media pewartaan dan sosialisasi isu-isu disabilitas, mengangkat topik ini sebagai jalan untuk memupus anggapan miring masyarakat terhadap penyandang disabilitas. Topik yang kemudian disosialisasikan kepada para Blogger, istilah untuk mereka yang punya dan aktif menulis di blog, untuk membantu mengubah stigma masyarakat terhadap penyandang disabilitas. Karena blog, bagi sebagian orang sudah dianggap gaya hidup dan membaca blog dianggap sebagai hobi bahkan rutinitas. Inilah yang dimanfaatkan oleh KARTUNET.COM untuk menyebarluaskan seruan untuk tidak memandang para penyandang disabilitas berbeda dari masyarakat pada umumnya. Lantas kenapa blog yang menjadi sasaran KARTUNET.COM menyebarkan misinya ke seluruh penjuru negeri? Karena bloggerlah yang bisa memahami sebuah peristiwa dan kemudian mencurahkannya dalam tulisan dengan hati. Sehingga diharapkan apa yang ditulis adalah benar-benar tulus dari hati untuk mengajak masyarakat luas memupus stigma miring penyandang disabilitas.
KARTUNET.COM dan para Blogger berharap agar seluruh masyarakat luas bergandengan tangan bersama dengan para penyandang disabilitas, tanpa sedikitpun perasaan berbeda. Setidaknya bagi para pembaca blog dan penikmat internet pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. Semoga dengan cara ini, masyarakat luas mampu menghilangkan anggapan-anggapan negatif terhadap penyandang disabilitas dan mulai menanamkan pemikiran yang berbeda tidak harus dibeda-bedakan, untuk kemudian mewujudkan masyarakat Indonesia yang peduli terhadap sesamanya yang kurang beruntung. Sehingga hak-hak para penyandang disabilitas tidak terenggut oleh keterbatasan mereka. Semoga...
Anda pun bisa ikut mendukung gerakan mulia ini, sampaikan pendapat anda dengan menulis sebuah komentar tentang artikel ini. Anda juga bisa mengajak teman-teman anda untuk ikut peduli terhadap para penyandang disabilitas dengan menyebarluaskan artikel ini ke akun jejaring sosial anda. Dan mari kita bergandengan tangan bersama untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang inklusif, sadar dan peduli terhadap saudara kita yang kurang beruntung.
- 6 Comment(s)
- Posted under Opinion
February 25, 2011 Orang Indonesia Itu Pinter-Pinter

Gak bener kalo orang Indonesia itu dianggap kurang pinter. Banyak kok orang Indonesia yang pinter. Contohnya banyak di bawah ini:
- Orang Indonesia itu pinter. Pinter Korupsi.
- Orang Indonesia itu pinter. Pinter memanipulasi data.
- Orang Indonesia itu pinter. Pinter membajak karya orang lain. Saking pinternya sawah-sawah pun dibajak..(lhoo)..
- Orang Indonesia itu pinter. Pinter ngomong doang tapi nihil aksi. Gak heran banyak pengamat di negri ini. Karena mereka gak bisa bertindak jadi cuma mengamati aja.
- Orang Indonesia itu pinter. Pinter memutarbalikkan fakta.
- Orang Indonesia itu pinter. Pinter mengeruhkan suasana.
- Orang Indonesia itu pinter. Pinter kalo disuruh ngomongin orang lain.
- Orang Indonesia itu pinter. Pinter mencerca orang lain padahal dirinya sendiri belum tentu lebih baik dari yang dicerca.
- Orang Indonesia itu pinter. Pinter kalo disuruh ikut-ikutan. Makanya banyak orang Indonesia yang kehilangan karakter khas.
- Orang Indonesia itu pinter. Pinter keroyokan. Kalo disuruh maju satu-satu suka pada kabur.
- Orang Indonesia itu pinter. Pinter bergaul. Saking pinternya disuruh jadi apa aja mau demi status “gaul”. *damn I hate that word!
- Orang Indonesia itu pinter. Pinter ngomporin. Untung LPG 3kg sekarang udah jarang meledak.
- Orang Indonesia itu pinter. Pinter nyari sensasi.
- 0 Comment(s)
- Posted under Opinion
February 25, 2011 Sifat – Sifat Manusia Indonesia
Malam-malam iseng-iseng liat blog saya yang dulu. Buka-buka artikel lama, tiba-tiba nemu sesuatu, yang sepertinya sedang hangat-hangatnya jika dibicarakan sekarang. Semua tentu berkaitan dengan semakin semrawutnya kondisi pemerintahan Negara kita. Lalu apa sebabnya pemerintahan negeri kita seperti gak ada beres-beresnya? Analisa saya mungkin karena masalah yang melanda negeri kita ini sudah sedemikian rumitnya sehingga butuh waktu yang gak sedikit untuk memperbaikinya. Tapi karena saat ini saya sedang membaca artikel saya di blog terdahulu, lansung saja saya hubungkan, siapa tahu inilah biang masalah yang ga pernah usai di negeri ini. Apa itu? Artikel saya di blog terdahulu berjudul Sifat-Sifat Manusia Indonesia. Disadur dari sebuah buku berjudul “Manusia Indonesia Sebuah Pertanggungjawaban” yang ditulis oleh Mochtar Lubis pada sekitar tahun 70an. Tapi saya rasa masih sangat relevan dengan kondisi terkini bangsa ini. Dalam buku itu dijelaskan beberapa sifat-sifat manusia Indonesia. Yang mencengangkan, sifat yang positif hanya satu yaitu manusia Indonesia itu cenderung Artistik. Lalu apa lagi yang lain? Berikut sifat-sifat manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis dalam bukunya “Manusia Indonesia Sebuah Pertanggungjawaban”:
1. Hipokritis alias Munafik
Inilah sifat utama manusia Indonesia. Suka berpura-pura. Mereka akan cenderung menutup-nutupi kejadian yang dinilainya akan membawa dampak buruk bagi mereka. Lain di muka lain di belakang. Sangat suka menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakan atau dipikirkannya.
2. Segan dan enggan bertanggungjawab atas perbuatannya, putusannya, kelakuannya, pikirannya dan sebagainya.
Kita mungkin kerap mendengar kalimat “Bukan saya”. Kalimat ini kerap muncul jika seseorang dihadapkan pada suatu masalah. Mereka cenderung akan mengelak dari tanggungjawabnya.
3. Berjiwa feudal
Revolusi kemerdekaan Indonesia sebenarnya bertujuan untuk membebaskan manusia Indonesia dari feodalisme. Namun pada kenyataannya praktek2 feodalisme masih bisa kita temukan sampai sekarang. Praktek2 ini dapat kita lihat dalam tata cara upacara resmi kenegaraan, dan masih banyak lagi lainnya.
4. Masih percaya takhayul
Mungkin masih segar dalam ingatan betapa saktinya sosok anak kecil bernama Ponari di Jombang Jawa Timur. Bagaimana bisa di jaman serba maju dan modern seperti ini kita masih percaya jika air dari seorang bocah SD bisa menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Tak lain karena manusia Indonesia sampai detik ini masih percaya pada takhayul.
5. Artistik
Manusia Indonesia itu dekat dengan alam oleh karenanya dia hidup lebih banyak dengan naluri, dengan perasaannya yang kesemuanya dapat mengembangkan daya artistik dalam jiwanya yang kemudian dituangkan dalam segala rupa artistik yang tercipta atas dasar rasa dan karsa.
6. Watak yang lemah dan karakter yang kurang kuat
Manusia Indonesia kurang dapat mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Dia mudah, apalagi jika dipaksa, dan demi untuk ’survive’ bersedia mengubah keyakinannya.
7. Tidak hemat, karena dia bukan “economic animal”
Manusia Indonesia itu pandai mengeluarkan terlebih dahulu penghasilan yang belum diterimanya, atau yang akan diterimanya, atau yang tidak akan pernah diterimanya. Dia cenderung boros. Dia senang berpakaian bagus, memakai perhiasan, berpesta-pesta.
8. Lebih suka tidak bekerja keras, kecuali kalau terpaksa
Banyak manusia Indonesia yang ingin segera menjadi “miliuner seketika”, seperti orang bikin mie instant, atau dengan mudah mendapat gelar sarjana sampai memalsukan atau membeli gelar sarjana, supaya segera dapat pangkat, dan dari kedudukan berpangkat cepat bisa menjadi kaya.
9. Manusia Indonesia itu tukang menggerutu
Manusia Indonesia itu sangat suka menggerutu tetapi menggerutunya tidak berani secara terbuka, hanya jika dia dalam rumahnya, atau jika dia berada diantara kawan-kawannya yang sepaham atau sama perasaan dengan dia
10. Cepat cemburu dan dengki terhadap orang lain yang dilihatnya lebih dari dia.
Ungkapan rumput tetangga lebih hijau dari rumput halaman sendiri memang benar adanya. Manusia Indonesia cenderung tidak suka jika orang-orang sekitarnya mempunyai lebih daripada yang dia punya.
11. Manusia Indonesia juga dapat dikatakan manusia sok
Manusia Indonesia itu kalo udah berkuasa cenderung mabuk kekuasaaan dan gak mau turun-turun. Kalo kaya mereka akan mabuk harta dan akibatnya akan menjadi rakus. Digaji berapapun juga mereka akan merasa kurang dan kemudian melakukan korupsi.
12. Manusia Indonesia juga manusia tukang tiru
Masih ingat ketika demam boyband melanda? Semua berlomba-lomba bikin boyband. Sekarang karena sedang demam boyband korea semua juga berlomba-loma meng-korea-kan diri. Karena manusia Indonesia itu tukang tiru sehingga mereka cenderung tidak memiliki karakter khas.
Nah, itulah beberapa sifat-sifat manusia Indonesia yang dikemukakan mochtar Lubis dalam bukunya. Masih relevan kan dengan kondisi negera kita belakangan ini?? Nah mungkin saja ini penyebab selalu ada aja masalah yang melanda negeri ini karena memang sifat-sifat manusia Indonesia ya seperti yang dikemukakan diatas.
- 0 Comment(s)
- Posted under Opinion
February 25, 2011 Saya Tentang Koprol
Lambang apa nih?? Tenang, “K” isn’t referring to Krizna :D. Kalo ngliat warna ijo khasnya dan bentuk huruf “K” nya, semua orang pasti uda bisa nebak ini adalah lambang Yahoo! Koprol. Yah, inilah jejaring sosial yang tergolong baru yang dibesut raksasa website Yahoo! Inc. Hari gini sapa sih yang ga kenal Koprol? Mungkin sebagian dari kita uda punya akun di situs yang beralamat di www.koprol.com ini. Sekilas Koprol seperti ga ada bedanya dengan jejaring sosial lainnya yang lebih dulu hadir di Indonesia. Fitur standard Update Status masih menjadi senjata utama jejaring sosial ini, meskipun terkesan lebih singkat dengan 140 karakternya dan tanpa dukungan dari pihak luar. Tapi ada yang membuat Koprol ini berbeda dengan jejaring sosial lainnya, kalau bisa saya bilang sebuah terobosan, yaitu adanya fitur Place. Sebuah fitur yang memungkinkan kita menambahkan tempat-tempat favorit untuk kemudian dijadikan petunjuk sedang dimana kita sekarang. Mungkin harapan dari Koprol sendiri adalah agar teman-teman kita tau, kita sedang dimana sih waktu update status ini dan memberikan gambaran, seberapa jauh sih teman kita ini. Selanjutnya tempat-tempat ini bisa kita share ke teman-teman dan mereka akan memberikan semacam rating yang menunjukkan rasa suka atau tidak suka terhadap tempat tersebut. Kita pun bisa menciptakan place-place baru, entah itu rumah kita, kamar kita, sekolah SD kita dulu atau apa saja, tentunya dengan melalui sebuah mekanisme yang saya sendiri ga tau mekanisme itu seperti apa :p..
Masih ada satu lagi yang menurut saya, lagi-lagi sebuah terobosan di dalam dunia per-jejaringsosial-an negeri ini. Adanya sebuah komunitas. Sejak saya bergabung di jejaring sosial ini, saya terkesan dengan eratnya rasa persaudaraan mereka. Hubungan mereka ternyata tidak hanya berjalan di dunia maya tapi juga merambah dunia nyata dengan melakukan serangkaian kegiatan kopdar. Hal ini menjadi sebuah fenomena tersendiri dan belum pernah ada user sebuah jejaring sosial dipertemukan dengan sesamanya dalam jumlah yang banyak. Bukan hanya kopdar, mereka juga kerap menggelar kegiatan sosial atau sekedar memberikan informasi tentang kegiatan sosial yang sedang atau yang akan dilaksanakan. Sebuah terobosan dan two thumbs up untuk itu.
Namun, jujur, saya sebenarnya tidak begitu suka bergabung dengan sebuah komunitas. Menurut saya sebuah komunitas hanya akan membatasi ruang gerak kita untuk bisa bergaul dengan banyak orang. Suka atau tidak, paham primordialisme atau kedaerahan, atau dalam hal ini kekomunitasan masih lekat dalam pikiran kita. Kita akan cenderung lebih mementingkan komunitas kita di atas segala-galanya. Kita akan cenderung lebih memperhatikan status teman-teman yang sekomunitas dengan kita. Mungkin inilah yang menjadi boomerang bagi saya. Karena saya tidak bergabung ke dalam sebuah komunitas, saya merasa seperti menjadi kaum minoritas dan merasa tersisih dari pergaulan koprol. Salah satu indikasinya tentu bisa dilihat dari Update Status saya. Misalnya, dalam sehari saya update status sebanyak 10 kali. Dari jumlah itu mungkin yang ada komentarnya hanya 20% nya saja, lainnya dibiarkan dingin dan garing kayak nasi kering. Dan dari 250 sekian teman saya, hanya orang-orang itu saja yang mendominasi 20% komentar di status saya. Atas dasar itulah kemudian timbul pikiran, apa akun saya ini invicible ya sampe ga bisa diliat user lain, atau emang pura-pura ga diliat kali yah. Tapi hal tersebut bukan sebuah masalah serius bagi saya. Saya ga terlalu mementingkan status saya dikomentari atau sekedar dibump. Bagi saya bisa menghadirkan kata-kata, yang mungkin ga penting, di Koprol adalah sebuah kebanggan. Diluar itu, saya bersedia menanggung segala konsekuensinya.:)
Tapi apapun itu, inilah jejaring sosial. Sebuah wadah tempat kita bersosialisasi dengan sesama. Dan kata sosial biasanya sangat erat kaitannya dengan perasaan saling menghormati dan saling menghargai.
- 0 Comment(s)
- Posted under Opinion
February 25, 2011 Televisi
Coba tanya, dari sekitar 230 juta manusia Indonesia, siapa yang tidak mengenal televisi?? Pasti hampir 100% menjawab tahu. Meskipun mungkin beberapa persen di antaranya tidak memiliki sendiri tapi bisa dipastikan mereka pun pernah menontonnya. Ya, televisi memang sudah menjadi kebutuhan primer dewasa ini. Dahulu televisi masih merupakan barang mewah bagi sebagian orang. Hanya orang-orang tertentu dengan tingkat ekonomi tinggi yang mampu mempunyai televisi. Tapi di jaman yang serba maju seperti sekarang ini, televisi bukan lagi barang mewah. Bisa dipastikan di hampir seluruh ruang keluarga di rumah-rumah masyarakat terdapat televisi.
Televisi sudah menjadi tontonan wajib bagi semua orang. Tidak hanya kaum tua, muda, anak-anak maupun balita. Dan acara yang ditayangkan di dalamnya, secara langsung maupun tidak langsung telah mempengaruhi gaya hidup penontonnya. Hal inilah yang mungkin tidak banyak disadari oleh sebagian masyarakat. Saya masih mengingat jelas bagaimana dulu saya begitu bangga menirukan gaya Ksatria Baja Hitam atau Power Rangers termasuk gaya berantemnya. Anak kecil, yang lugu memang mudah menirukan gaya-gaya tontonan favoritnya di televisi. Tentu tayangan yang memang ditujukan untuk anak-anak. Namun, bagaimana jika anak-anak ini mengkonsumsi tayangan dewasa? Tayangan dewasa disini bukan hanya tayangan yang bersifat “xxx” tetapi juga tayangan yang membutuhkan pemikiran dewasa. Nah, inilah yang terjadi sekarang. Kalau saya menonton televisi sekarang, sangat sulit ditemui acara khusus anak-anak, kecuali film kartun. Diluar film kartun, anak-anak sekarang dipaksa menonton acara yang harusnya ditonton mereka 10 tahun lagi. Sinetron salah satu contohnya. Apa yang ada di benak kita tentang sinetron? Pertama, pasti percintaan, persaingan, pukul-pukulan dan bahkan tidak jarang terlontar kata-kata kotor. Apakah anak umur 10 tahun sudah mengerti percintaan? Mungkin yang mereka lihat hanya sifat pemain-pemain sinetron di dalamnya, yang menurut saya sangat tidak masuk akal. Apalagi dengan semakin menjamurnya acara berkedok Reality Show yang menurut juga tidak terlalu real. Ada sebuah acara reality show di sebuah televisi swasta yang ditayangkan setiap malam, dimana di dalamnya hanya menampilkan kekerasan, kata-kata kasar, saling menghasut dan berbagai keburukan lainnya. Nah apa jadinya kalau acara ini ditonton anak-anak? Apalagi mereka mempraktekkannya di kehidupan nyata. Bisa dibayangkan bagaimana karakter mereka nantinya. Suka tidak suka, televisi ikut berperan dalam pembentukan karakter manusia.
Hal inilah yang sangat memprihatinkan. Bagi pelaku bisnis pertelevisian, hal ini tidak terlalu merisaukan mereka. Karena mereka hanya mementingkan rating dan materi semata tanpa memikirkan dampak apa yang akan terjadi lewat acara yang ditayangkannya. Mungkin hanya orang tualah yang harus bisa menjadi filter bagi anak-anaknya. Orang tua wajib menentukan acara-acara apa saja yang boleh dan yang tidak boleh ditonton anaknya. Dengan begitu diharapkan karakter anak-anak yang terbentuk nantinya benar-benar karakter manusia Indonesia yang santun, saling menghormati, tenggang rasa, yang belakangan semakin sulit ditemui di televisi.
Semua hal memang ada sisi positif dan negatifnya. Kita bisa mengambil yang positif dan harus membuang yang negatif.
- 0 Comment(s)
- Posted under Opinion
February 25, 2011 Say NO! to Inspiracy
Bingung liat judulnya?? Tenang saja judul diatas bukan salah ketik. Kata Inspiracy muncul dari dua kata yang saya gabung jadi satu, yaitu Inspiration dan Piracy, yang kemudian saya artikan dengan pembajakan inspirasi. Hmm.. apa lagi ini? Dalam tulisan pertama saya di blog ini yang berjudul Again telah saya paparkan tentang latar belakang saya membuat blog ini, yang merupakan blog ketiga saya. Saya tidak puas dengan banyaknya artikel repost di blog-blog saya terdahulu. Oleh karena itu saya bertekad untuk tidak lagi memasang artikel-artikel yang repost di blog ini. Atas dasar tekad itulah kemudian muncul kata Inspiracy. Pembajakan atau Piracy adalah sebuah kejahatan. Karena menggunakan karya orang lain dengan tanpa izin adalah sebuah kegiatan yang merugikan salah satu pihak. Tapi, disini kita tidak sedang berbicara pembajakan di mata hukum karena saya tidak mengerti apa-apa tentang hukum. Kita akan membicarakan pembajakan dari sisi penghargaan. Ambil contoh, ketika anda mencari sebuah artikel di internet. Dengan bantuan Google tentu akan menjadi hal yang mudah untuk dilakukan. Tapi apa yang kemudian anda rasakan saat Google sudah menampilkan hasil pencarian anda? Berdasarkan pengalaman pribadi, hal yang membuat saya jengkel adalah ketika saya menemukan banyak sekali artikel yang, huruf maupun susunan katanya, sama persis dengan blog-blog yang lain. Saya gak habis pikir, mudah saja bagi mereka mengcopy tulisan orang lain, (seperti yang saya lakukan di blog saya sebelumnya) tanpa memikirkan bagaimana penulis asli tersebut mencurahkan waktu untuk menulis artikel tersebut, yang kemudian hanya di copy paste yang hanya membutuhkan waktu kurang dari semenit. Lantas kemana penghargaan kita terhadap hasil karya orang lain?? Masih teringat jelas bukan ketika Malaysia tanpa hak mengklaim budaya kita seperti batik, reog, tari kecak dll, tanpa dikomando sebagian besar masyarakat kita melancarkan aksi protes menentang klaim Malaysia yang menurut kita melanggar hak cipta budaya bangsa kita. Dari sisi nasionalisme memang patut diacungi jempol. Tetapi coba kita tengok diri kita sendiri. Mungkin kita juga tanpa sengaja atau dengan sengaja pernah melakukan tindakan pembajakan, mengambil karya orang lain tanpa izin dan digunakan untuk kepentingan pribadi. Memang tidak ada label hak cipta pada karya tersebut, tetapi setidaknya ada lah sedikit penghargaan kepada mereka yang telah dengan susah payah mencurahkan inspirasinya. Hal itu juga yang akan kita rasakan ketika hasil karya kita kemudian dibajak orang lain untuk kepentingan pribadi. Tentu perasaan tidak terima akan muncul. Waktu, biaya dan pikiran kita yang telah kita curahkan untuk menulis sebuah artikel dengan tanpa hak dibajak oleh orang lain. Benar-benar perbuatan yang tidak beretika bukan?
Untuk itu alangkah indahnya jika semua saling menghargai, bukan hanya pada artikel di blog tapi juga dalam hal-hal yang lain. Saya telah menyadari kekeliruan saya di blog yang terdahulu dan saya memperbaikinya di blog ini. Semoga hal yang sama akan diikuti oleh blogger-blogger lainnya sehingga tidak ada lagi kejengkelan ketika menemukan artikel-artikel yang ditulis sama persis di banyak blog.
Kemudian dengan lantang kita berteriak Say NO! To Inspiracy
- 0 Comment(s)
- Posted under Opinion
February 25, 2011 Band Indonesia Masa Kini
Dewa 19, PADI, ADA Band, Kahitna, Slank... Sapa yang gak kenal band-band tersebut? Merekalah band-band yang berkibar di era 90an. Band-band Indonesia yang belakangan namanya sedikit meredup sebagai akibat dari gempuran band-band baru yang mendadak bermunculan bak jamur di musim hujan (haiaah).. Nah, sekarang yang menjadi pertanyaan saya, apa yang membedakan band-band Indonesia masa itu dengan band-band Indonesia masa kini? Sekilas mungkin tak ada bedanya. Dilihat dari segi bahasa band masa itu dan band masa kini masih menggunakan Bahasa Indonesia meskipun pada beberapa band ada yang menyelipinya dengan Bahasa Inggris, Bahasa Jepang dan bahasa-bahasa lainnya. Dari segi musik, mungkin band-band sekarang jauh lebih maju. Berbagai jenis alat musik dipadupadankan yang menghasilkan lantunan musik yang enak untuk didengar. Jauh berbeda dengan band masa itu yang masih menggunakan peralatan musik standard macam drum, gitar, piano dan bas. Namun, kalau boleh saya memilih, band masa itu atau band masa kini yang ingin saya dengarkan?? Dengan lantang saya akan menjawab band masa itu.. Kenapa?? (pertanyaan bagus).. Dengan usia yang bisa dibilang agak dewasa (kalau gak mau dibilang tua), saya sudah terbiasa mendengarkan lagu dari band-band masa itu. Mungkin itulah yang membuat saya lebih memilih band-band masa itu. Namun terlepas dari itu semua yang membuat saya masih mengagumi band-band jadul sampai sekarang adalah kreativitas mereka dalam merangkai kata-kata menjadi lirik lagu yang romantis, puitis dan kadang meluluhkan hati..(ckckckck).. Itulah yang menurut saya menjadi nilai plus untuk band-band masa itu. Karena jika dibandingkan dengan band-band masa kini yang liriknya kebanyakan pas-pasan, tentu kekreativitasan mereka dalam merangkai kata-kata patut diacungi jempol. Band-band sekarang, kebanyakan hanya menonjolkan gaya mereka dalam panggung atau dalam video klip mereka. Lirik lagu-lagu mereka semuanya standard, gak ada yang istimewa, yang menurut saya, anak SD pun bisa bikin lirik seperti itu. Paling banter, mereka mencoba berinovasi dengan menyelipkan beberapa kata dalam bahasa asing sepeti Bahasa Jepang, Bahasa Inggris dll (Bahasa Jawa ada gak ya??). Ada juga yang belagak culun, yang bermodal lirik meggelitik namun sebenarnya menjijikkan. Come on guys, kekuatan sebuah lagu itu ada pada liriknya. Tapi kita gak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka. Mungkin juga di masa kini intervensi dari pihak-pihak luar mengekang mereka dalam menciptakan lirik-lirik yang kreatif. Tuntutan label mungkin salah satunya. Demi mengejar sebuah pencapaian materi mereka rela kreatifitas mereka direnggut. Dalam pemikiran saya, alangkah baiknya jika kualitas lebih diutamakan ketimbang kuantitas.Lebih baik menciptakan satu lagu saja tetapi dengan tingkat kreatifitas yang tinggi, tidak hanya pada kemampuan bermusik tetapi juga dalam memainkan kata-kata menjadi sebuah lirik daripada menciptakan seratus lagu tapi dengan musik sederhana dan lirik standard yang kadang gak bermutu, tampang dan aksi gila yang kemudian dijadikan senjata pamungkas. Tapi itulah mereka, jamur-jamur di musim hujan, yang jika musim kemarau datang mereka menghilang ditelan bumi.
Well, saya bukan orang musik, saya juga gak punya band, saya hanyalah penikmat musik dan itulah penilaian saya terhadap dunia permusikan Indonesia jaman sekarang. Selera musik setiap orang tentu berbeda dan saya melihat semua ini dari sudut pandang saya pribadi.
- 0 Comment(s)
- Posted under Opinion

