February 25, 2011 Band Indonesia Masa Kini
Dewa 19, PADI, ADA Band, Kahitna, Slank... Sapa yang gak kenal band-band tersebut? Merekalah band-band yang berkibar di era 90an. Band-band Indonesia yang belakangan namanya sedikit meredup sebagai akibat dari gempuran band-band baru yang mendadak bermunculan bak jamur di musim hujan (haiaah).. Nah, sekarang yang menjadi pertanyaan saya, apa yang membedakan band-band Indonesia masa itu dengan band-band Indonesia masa kini? Sekilas mungkin tak ada bedanya. Dilihat dari segi bahasa band masa itu dan band masa kini masih menggunakan Bahasa Indonesia meskipun pada beberapa band ada yang menyelipinya dengan Bahasa Inggris, Bahasa Jepang dan bahasa-bahasa lainnya. Dari segi musik, mungkin band-band sekarang jauh lebih maju. Berbagai jenis alat musik dipadupadankan yang menghasilkan lantunan musik yang enak untuk didengar. Jauh berbeda dengan band masa itu yang masih menggunakan peralatan musik standard macam drum, gitar, piano dan bas. Namun, kalau boleh saya memilih, band masa itu atau band masa kini yang ingin saya dengarkan?? Dengan lantang saya akan menjawab band masa itu.. Kenapa?? (pertanyaan bagus).. Dengan usia yang bisa dibilang agak dewasa (kalau gak mau dibilang tua), saya sudah terbiasa mendengarkan lagu dari band-band masa itu. Mungkin itulah yang membuat saya lebih memilih band-band masa itu. Namun terlepas dari itu semua yang membuat saya masih mengagumi band-band jadul sampai sekarang adalah kreativitas mereka dalam merangkai kata-kata menjadi lirik lagu yang romantis, puitis dan kadang meluluhkan hati..(ckckckck).. Itulah yang menurut saya menjadi nilai plus untuk band-band masa itu. Karena jika dibandingkan dengan band-band masa kini yang liriknya kebanyakan pas-pasan, tentu kekreativitasan mereka dalam merangkai kata-kata patut diacungi jempol. Band-band sekarang, kebanyakan hanya menonjolkan gaya mereka dalam panggung atau dalam video klip mereka. Lirik lagu-lagu mereka semuanya standard, gak ada yang istimewa, yang menurut saya, anak SD pun bisa bikin lirik seperti itu. Paling banter, mereka mencoba berinovasi dengan menyelipkan beberapa kata dalam bahasa asing sepeti Bahasa Jepang, Bahasa Inggris dll (Bahasa Jawa ada gak ya??). Ada juga yang belagak culun, yang bermodal lirik meggelitik namun sebenarnya menjijikkan. Come on guys, kekuatan sebuah lagu itu ada pada liriknya. Tapi kita gak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka. Mungkin juga di masa kini intervensi dari pihak-pihak luar mengekang mereka dalam menciptakan lirik-lirik yang kreatif. Tuntutan label mungkin salah satunya. Demi mengejar sebuah pencapaian materi mereka rela kreatifitas mereka direnggut. Dalam pemikiran saya, alangkah baiknya jika kualitas lebih diutamakan ketimbang kuantitas.Lebih baik menciptakan satu lagu saja tetapi dengan tingkat kreatifitas yang tinggi, tidak hanya pada kemampuan bermusik tetapi juga dalam memainkan kata-kata menjadi sebuah lirik daripada menciptakan seratus lagu tapi dengan musik sederhana dan lirik standard yang kadang gak bermutu, tampang dan aksi gila yang kemudian dijadikan senjata pamungkas. Tapi itulah mereka, jamur-jamur di musim hujan, yang jika musim kemarau datang mereka menghilang ditelan bumi.
Well, saya bukan orang musik, saya juga gak punya band, saya hanyalah penikmat musik dan itulah penilaian saya terhadap dunia permusikan Indonesia jaman sekarang. Selera musik setiap orang tentu berbeda dan saya melihat semua ini dari sudut pandang saya pribadi.
- Posted under Opinion
0 Comment(s):