Skip to content

Krisna Prasetyo

television Coba tanya, dari sekitar 230 juta manusia Indonesia, siapa yang tidak mengenal televisi?? Pasti hampir 100% menjawab tahu. Meskipun mungkin beberapa persen di antaranya tidak memiliki sendiri tapi bisa dipastikan mereka pun pernah menontonnya. Ya, televisi memang sudah menjadi kebutuhan primer dewasa ini. Dahulu televisi masih merupakan barang mewah bagi sebagian orang. Hanya orang-orang tertentu dengan tingkat ekonomi tinggi yang mampu mempunyai televisi. Tapi di jaman yang serba maju seperti sekarang ini, televisi bukan lagi barang mewah. Bisa dipastikan di hampir seluruh ruang keluarga di rumah-rumah masyarakat terdapat televisi.
Televisi sudah menjadi tontonan wajib bagi semua orang. Tidak hanya kaum tua, muda, anak-anak maupun balita. Dan acara yang ditayangkan di dalamnya, secara langsung maupun tidak langsung telah mempengaruhi gaya hidup penontonnya. Hal inilah yang mungkin tidak banyak disadari oleh sebagian masyarakat. Saya masih mengingat jelas bagaimana dulu saya begitu bangga menirukan gaya Ksatria Baja Hitam atau Power Rangers termasuk gaya berantemnya. Anak kecil, yang lugu memang mudah menirukan gaya-gaya tontonan favoritnya di televisi. Tentu tayangan yang memang ditujukan untuk anak-anak. Namun, bagaimana jika anak-anak ini mengkonsumsi tayangan dewasa? Tayangan dewasa disini bukan hanya tayangan yang bersifat “xxx” tetapi juga tayangan yang membutuhkan pemikiran dewasa. Nah, inilah yang terjadi sekarang. Kalau saya menonton televisi sekarang, sangat sulit ditemui acara khusus anak-anak, kecuali film kartun. Diluar film kartun, anak-anak sekarang dipaksa menonton acara yang harusnya ditonton mereka 10 tahun lagi. Sinetron salah satu contohnya. Apa yang ada di benak kita tentang sinetron? Pertama, pasti percintaan, persaingan, pukul-pukulan dan bahkan tidak jarang terlontar kata-kata kotor. Apakah anak umur 10 tahun sudah mengerti percintaan? Mungkin yang mereka lihat hanya sifat pemain-pemain sinetron di dalamnya, yang menurut saya sangat tidak masuk akal. Apalagi dengan semakin menjamurnya acara berkedok Reality Show yang menurut juga tidak terlalu real. Ada sebuah acara reality show di sebuah televisi swasta yang ditayangkan setiap malam, dimana di dalamnya hanya menampilkan kekerasan, kata-kata kasar, saling menghasut dan berbagai keburukan lainnya. Nah apa jadinya kalau acara ini ditonton anak-anak? Apalagi mereka mempraktekkannya di kehidupan nyata. Bisa dibayangkan bagaimana karakter mereka nantinya. Suka tidak suka, televisi ikut berperan dalam pembentukan karakter manusia.
Hal inilah yang sangat memprihatinkan. Bagi pelaku bisnis pertelevisian, hal ini tidak terlalu merisaukan mereka. Karena mereka hanya mementingkan rating dan materi semata tanpa memikirkan dampak apa yang akan terjadi lewat acara yang ditayangkannya. Mungkin hanya orang tualah yang harus bisa menjadi filter bagi anak-anaknya. Orang tua wajib menentukan acara-acara apa saja yang boleh dan yang tidak boleh ditonton anaknya. Dengan begitu diharapkan karakter anak-anak yang terbentuk nantinya benar-benar karakter manusia Indonesia yang santun, saling menghormati, tenggang rasa, yang belakangan semakin sulit ditemui di televisi.
Semua hal memang ada sisi positif dan negatifnya. Kita bisa mengambil yang positif dan harus membuang yang negatif.

0 Comment(s):

Leave A Reply

Important : If you're looking for further clarification, advice or support, please address by email.